S05 · Perumusan Strategi DHASTRAM

Tema Strategis

Cerita strategis lintas perspektif yang menghubungkan beberapa Sasaran Strategis dan Inisiatif pada satu agenda penciptaan nilai, sehingga strategi dapat dipahami sebagai jalur perubahan yang utuh, bukan kumpulan sasaran yang berdiri sendiri.

Cerita StrategisLintas PerspektifSasaranInisiatifPenciptaan Nilai

Pertanyaan utamaCerita strategis apa yang menghubungkan beberapa sasaran lintas Swadharma–Dharma–Kama–Artha menuju hasil tertentu?
Posisi S05. Peta Strategi dapat memiliki banyak sasaran dan hubungan. Tema Strategis membantu pimpinan melihat beberapa cerita penciptaan nilai di dalam peta tersebut. Tema berasal dari Pilihan Strategis dan konteks organisasi; bukan tambahan perspektif dan bukan nama departemen.

1. Apa Itu Tema Strategis?

Tema Strategis adalah cerita strategis lintas perspektif yang mengelompokkan sasaran-sasaran terkait pada satu agenda besar penciptaan nilai. Tema membantu menjawab: “Bagian penting dari strategi ini sedang berusaha mewujudkan perubahan apa?”

Tema membuat strategi lebih mudah dikomunikasikan tanpa kehilangan hubungan antarsasaran. Ia berada di antara Pilihan Strategis yang relatif luas dan Sasaran Strategis yang lebih spesifik.

Contoh hotel. Pilihan strategis hotel adalah memperkuat pasar MICE dan wedding. Di dalamnya dapat muncul tema “Keunggulan Penyelenggaraan Acara”. Tema tersebut menghubungkan kemampuan tim acara, keandalan proses, pengalaman penyelenggara, dan kontribusi pendapatan acara.

2. Mengapa Tema Strategis Diperlukan?

Tanpa tema, pimpinan dapat melihat banyak sasaran tetapi kehilangan cerita yang menyatukannya. Tema menyederhanakan komunikasi, membantu koordinasi lintas fungsi, dan menyediakan unit analisis untuk meninjau apakah suatu agenda penciptaan nilai benar-benar bekerja.

Contoh rumah sakit. Sasaran integrasi informasi, koordinasi klinis, keselamatan pelayanan, kepastian pasien, dan produktivitas kapasitas dapat terlihat terpisah. Tema “Pelayanan Terpadu” membantu menjelaskan bahwa seluruh sasaran tersebut merupakan bagian dari satu cerita strategis.

3. Tema Strategis ≠ Perspektif

PerspektifTema Strategis
Struktur tetap DHASTRAM.Kontekstual sesuai Pilihan Strategis.
Swadharma, Dharma, Kama, Artha.Misalnya Keunggulan Pelayanan, Pertumbuhan Digital, Ketahanan Operasional.
Menjawab sudut pandang penciptaan nilai.Menceritakan agenda yang melintasi sudut pandang tersebut.
Contoh. “Kama” bukan tema. “Pengalaman Pelanggan Terpadu” dapat menjadi tema yang memiliki sasaran Swadharma, Dharma, Kama, dan Artha.

4. Tema Strategis ≠ Departemen

Tema mengikuti penciptaan nilai, bukan struktur organisasi. Nama seperti TI, SDM, Operasional, Marketing, atau Finance biasanya merupakan fungsi, bukan Tema Strategis.

Contoh distribusi. Tema “Keandalan Pemenuhan Pesanan” membutuhkan kontribusi Sales, Purchasing, Warehouse, Transport, IT, dan Finance. Bila tema dinamai “Program Warehouse”, organisasi berisiko menganggap masalah keandalan hanya tanggung jawab gudang.

5. Tema Strategis ≠ Slogan

Nama tema boleh ringkas dan komunikatif, tetapi harus memiliki isi: sasaran yang jelas, hubungan yang dapat dijelaskan, KPI, inisiatif, penanggung jawab, dan hasil yang dapat ditinjau.

Contoh. “Digital Excellence” hanya slogan jika tidak jelas kemampuan digital apa yang dibangun, proses apa yang berubah, nilai apa yang diterima pengguna, dan hasil apa yang diharapkan. Tema yang baik membuat semua unsur tersebut dapat ditelusuri.

6. Tema Berasal dari Pilihan Strategis

Pilihan Strategis→Cerita Strategis→Tema→Sasaran Lintas Perspektif

Tema tidak dibuat hanya karena namanya terdengar menarik. Tema harus membantu menjelaskan bagaimana Pilihan Strategis diwujudkan.

Contoh. Pilihan “mengembangkan layanan kesehatan yang lebih mudah diakses melalui jaringan dan digital” dapat melahirkan tema “Akses Pelayanan”, “Keunggulan Klinis”, dan “Integrasi Digital”. Ketiga tema tetap harus menunjukkan kontribusi terhadap pilihan yang sama.

7. Menemukan Cerita di Dalam Peta Strategi

Setelah sasaran dan hubungan digambar, organisasi dapat mencari kelompok sasaran yang bersama-sama menceritakan jalur penciptaan nilai. Pola ini dapat menjadi kandidat tema.

Contoh hotel. Sasaran kemampuan revenue management, ketepatan harga, relevansi penawaran, dan peningkatan RevPAR dapat membentuk cerita “Optimalisasi Pendapatan”. Sementara kemampuan banquet, keandalan acara, pengalaman penyelenggara, dan pendapatan MICE membentuk cerita berbeda.

8. Tema Harus Melintasi Perspektif

Tema yang hanya berisi satu perspektif sering kali belum menceritakan penciptaan nilai secara lengkap. Idealnya tema menunjukkan bagaimana kemampuan berubah menjadi tindakan, nilai pemangku kepentingan, dan hasil.

Contoh Tema Keunggulan Pelayanan. Swadharma: meningkatkan kemampuan petugas. Dharma: meningkatkan konsistensi proses pelayanan. Kama: meningkatkan kepastian dan pengalaman pelanggan. Artha: meningkatkan retensi dan produktivitas pelayanan.

9. Tema Tidak Harus Memiliki Jumlah Sasaran yang Sama di Setiap Perspektif

Tema bukan tabel yang harus simetris. Satu tema dapat memiliki dua sasaran Dharma, satu Kama, dan satu Artha bila itulah logika strategi yang paling masuk akal.

Contoh. Tema “Keamanan Pangan” dapat memerlukan beberapa sasaran Dharma—pengendalian suhu, ketertelusuran, kepatuhan proses—tetapi hanya satu sasaran Kama berupa peningkatan kepercayaan pelanggan. Ketidaksimetrisan tersebut tidak menjadi masalah.

10. Satu Sasaran Dapat Mendukung Lebih dari Satu Tema

Beberapa kemampuan strategis bersifat bersama dan dapat menopang beberapa agenda. Organisasi tidak perlu menduplikasi sasaran hanya agar setiap tema terlihat lengkap.

Contoh. Sasaran “meningkatkan kualitas dan integrasi data” dapat mendukung tema “Keandalan Operasional” sekaligus “Pertumbuhan Digital”. Satu kemampuan data menjadi fondasi bagi dua cerita strategis.

11. Namun Jangan Menghubungkan Semua Sasaran ke Semua Tema

Jika setiap sasaran dimasukkan ke seluruh tema, tema kehilangan fungsi sebagai alat fokus. Hubungan harus material dan dapat dijelaskan.

Contoh. Sasaran “meningkatkan kemampuan pastry” mungkin penting bagi tema “Pengalaman Kuliner”, tetapi tidak otomatis relevan bagi tema “Efisiensi Energi”. Hubungan harus mengikuti mekanisme penciptaan nilai.

12. Contoh Struktur Tema: Keunggulan Pelayanan

PerspektifSasaran dalam Tema
SwadharmaMeningkatkan kemampuan petugas garis depan.
DharmaMeningkatkan konsistensi dan kecepatan penyelesaian layanan.
KamaMeningkatkan kepastian, kepercayaan, dan pengalaman pelanggan.
ArthaMeningkatkan retensi dan nilai hubungan pelanggan secara sehat.

13. Contoh Struktur Tema: Pertumbuhan Digital

PerspektifSasaran dalam Tema
SwadharmaMeningkatkan kemampuan data, integrasi, dan pengembangan digital.
DharmaMeningkatkan kemudahan dan keandalan proses digital.
KamaMeningkatkan akses dan pengalaman pengguna.
ArthaMeningkatkan kontribusi kanal digital dan produktivitas layanan.

14. Contoh Struktur Tema: Ketahanan Operasional

PerspektifSasaran dalam Tema
SwadharmaMeningkatkan kemampuan risiko, data, dan kesiapan sumber daya.
DharmaMeningkatkan keandalan proses kritis dan pemulihan gangguan.
KamaMenjaga kepercayaan melalui kontinuitas layanan.
ArthaMengurangi kerugian gangguan dan memperkuat ketahanan sumber daya.

15. Tema dan Hubungan Sebab-Akibat

Tema bukan sekadar pengelompokan warna. Sasaran di dalamnya harus mempunyai cerita hubungan yang dapat dijelaskan.

Kemampuan→Proses→Nilai→Hasil
Contoh. Dalam tema “Keunggulan Penyelenggaraan Acara”: kemampuan koordinasi acara meningkat → kesalahan pelaksanaan berkurang → kepercayaan penyelenggara meningkat → repeat event dan kontribusi pendapatan meningkat. Setiap panah tetap merupakan hipotesis yang harus diuji.

16. Tema dan KPI Tree

KPI Tree membantu melihat indikator penggerak dan hasil di dalam suatu tema. Namun hubungan antarindikator tetap merupakan hipotesis, bukan kepastian matematis.

Contoh. Tema “Keandalan Distribusi” dapat membaca kompetensi operator, scan compliance, picking accuracy, OTIF, keluhan, dan biaya kesalahan. Pohon KPI membantu melihat jalur pengukuran, tetapi tidak membuktikan satu indikator menyebabkan indikator lainnya.

17. Tema Membantu Memilih KPI yang Bermakna

Tanpa cerita tema, organisasi mudah mengumpulkan terlalu banyak KPI. Tema membantu memilih indikator yang benar-benar menjelaskan apakah jalur penciptaan nilai bekerja.

Contoh. Tema “Pengalaman Pasien” tidak perlu memasukkan semua indikator rumah sakit. Pilih indikator yang membantu membaca kemampuan, proses, pengalaman pasien, dan hasil yang memang menjadi bagian cerita tema.

18. Tema dan Portofolio Inisiatif

Inisiatif dapat dikelompokkan menurut tema untuk melihat apakah sumber daya perubahan mendukung prioritas secara seimbang.

Contoh hotel. Tema MICE memiliki sasaran penting, tetapi hanya satu inisiatif kecil, sementara tema lain memiliki delapan proyek besar. Pimpinan dapat bertanya apakah alokasi sumber daya benar-benar mencerminkan Pilihan Strategis.

19. Banyak Inisiatif Tidak Berarti Tema Sehat

Jumlah proyek menunjukkan aktivitas, bukan manfaat. Tinjauan tema harus melihat apakah kemampuan, proses, nilai, dan hasil benar-benar berubah.

Contoh. Lima proyek digital selesai tepat waktu, tetapi penggunaan pelanggan rendah dan waktu layanan tidak berubah. Portofolio proyek hijau, namun tema “Pertumbuhan Digital” belum tentu sehat.

20. Tema dan Realisasi Manfaat

Tema membantu menghubungkan keluaran proyek dengan manfaat yang diharapkan. Ini mencegah organisasi berhenti pada “proyek selesai”.

Inisiatif→Keluaran→Adopsi→Perubahan Sasaran→Manfaat Tema
Contoh. Implementasi aplikasi reservasi menghasilkan aplikasi yang aktif. Manfaat baru muncul bila tamu menggunakannya, proses reservasi menjadi lebih mudah, conversion meningkat, dan biaya pelayanan membaik.

21. Tema Memerlukan Penanggung Jawab atau Sponsor

Karena tema melintasi fungsi, diperlukan pimpinan yang cukup berwenang untuk mengoordinasikan sasaran dan inisiatif lintas unit. Perannya bukan mengambil alih akuntabilitas setiap sasaran.

Contoh. Direktur Operasional menjadi sponsor tema “Keandalan Distribusi”. Warehouse Manager tetap bertanggung jawab atas sasaran gudang, IT Manager atas inisiatif sistem tertentu, dan fungsi lain atas kontribusinya. Sponsor menjaga cerita lintas fungsi tetap bergerak.

22. Sponsor Tema ≠ Penanggung Jawab Semua Sasaran

Tema adalah mekanisme koordinasi. Akuntabilitas sasaran tetap berada pada penanggung jawab masing-masing.

Contoh. Sponsor “Pengalaman Pelanggan” tidak otomatis menjadi penanggung jawab sasaran kualitas produk, layanan purna jual, aplikasi, dan logistik. Ia memastikan sasaran tersebut bergerak sebagai satu agenda dan konflik lintas fungsi diselesaikan.

23. Tema dan Anggaran Strategis

Pengelompokan inisiatif per tema membantu pimpinan membaca apakah sumber daya mengikuti prioritas strategis.

Contoh. Organisasi menyatakan “Keunggulan Pelayanan” sebagai tema utama, tetapi hanya 5% anggaran perubahan mendukungnya. Ketidaksesuaian tersebut menjadi bahan diskusi: apakah tema benar-benar prioritas atau hanya komunikasi?

24. Tema dan Ketergantungan Antar-Inisiatif

Beberapa inisiatif dalam tema saling bergantung. Portofolio perlu melihat urutan dan ketergantungan, bukan hanya status masing-masing proyek.

Contoh distribusi. WMS bergantung pada master data, jaringan, perangkat scanner, label, dan kesiapan proses. Semua proyek dapat terlihat “berjalan”, tetapi manfaat tema tidak muncul bila salah satu fondasi kritis tertinggal.

25. Tema dan Rambu Dharma

Keberhasilan tema tidak boleh dinilai hanya dari manfaat ekonomi. Rambu Dharma tetap berlaku pada cara manfaat dicapai.

Contoh. Tema “Produktivitas Operasional” berhasil menurunkan biaya, tetapi menyebabkan pelanggaran keselamatan atau kualitas. Tema tersebut tidak dapat dinyatakan berhasil hanya karena hasil Artha membaik.

26. Tema dan Asumsi Strategis

Setiap tema mengandung asumsi tentang bagaimana nilai akan tercipta. Asumsi penting perlu dicatat dan dipantau.

Contoh hotel. Tema “Pertumbuhan MICE” berasumsi permintaan korporasi regional cukup besar dan pelanggan menghargai keandalan layanan. Bila pola kerja atau pasar berubah, asumsi tersebut perlu ditinjau sebelum menambah investasi.

27. Tema dan Jeda Waktu

Manfaat tema sering muncul bertahap. Kemampuan dapat membaik lebih dahulu, kemudian proses, lalu nilai pemangku kepentingan, dan akhirnya hasil Artha.

Contoh. Tema “Pengembangan Talenta Layanan” mungkin menunjukkan kompetensi meningkat pada kuartal pertama, konsistensi proses pada kuartal kedua, pengalaman pelanggan pada kuartal berikutnya, dan retensi setelah periode yang lebih panjang.

28. Meninjau Tema sebagai Satu Cerita

Tinjauan tema tidak cukup membaca status proyek. Pimpinan perlu mengikuti alur penciptaan nilai dari Swadharma sampai Artha.

LapisanPertanyaan Tinjauan
SwadharmaApakah kemampuan yang diperlukan benar-benar berkembang?
DharmaApakah cara kerja dan proses benar-benar membaik?
KamaApakah pemangku kepentingan merasakan nilai yang diharapkan?
ArthaApakah hasil dan sumber daya yang diharapkan mulai muncul?
PembelajaranApakah hipotesis tema masih didukung bukti?

29. Jika Swadharma Membaik tetapi Dharma Tidak

Kemampuan yang meningkat belum tentu digunakan dalam pekerjaan. Organisasi perlu memeriksa adopsi, proses, insentif, sistem, dan kepemimpinan.

Contoh. Tim telah dilatih menggunakan analitik, tetapi proses rapat perencanaan masih menggunakan spreadsheet lama dan keputusan tidak memakai hasil analitik. Kemampuan ada, tetapi belum mengubah Dharma.

30. Jika Dharma Membaik tetapi Kama Tidak

Proses yang lebih efisien belum tentu menciptakan nilai yang dianggap penting oleh pemangku kepentingan.

Contoh rumah sakit. Registrasi menjadi lebih cepat, tetapi pasien masih merasa tidak pasti karena informasi jadwal dokter sering berubah. Efisiensi internal membaik, namun nilai yang paling penting bagi pasien belum terjawab.

31. Jika Kama Membaik tetapi Artha Tidak

Nilai bagi pemangku kepentingan dapat meningkat tetapi belum menghasilkan Artha karena jeda waktu, model ekonomi, biaya, kapasitas, atau faktor lain.

Contoh hotel. Kepuasan penyelenggara MICE naik, tetapi margin belum membaik karena biaya banquet terlalu tinggi. Tema perlu melihat produktivitas dan desain penawaran, bukan menyimpulkan pengalaman pelanggan tidak berguna.

32. Jika Artha Membaik tetapi Kama Tidak

Hasil Artha yang baik belum membuktikan cerita tema bekerja. Faktor harga, pasar, aset, atau kejadian satu kali dapat meningkatkan hasil tanpa memperbaiki nilai pemangku kepentingan.

Contoh. Pendapatan naik karena kenaikan harga, sementara keluhan dan retensi memburuk. Tema harus dibaca lebih hati-hati agar keberhasilan jangka pendek tidak menutupi risiko hubungan jangka panjang.

33. Tema dan Pembelajaran Strategis

Tema menyediakan unit yang baik untuk belajar karena ia menghubungkan kemampuan, tindakan, nilai, dan hasil. Ketika cerita tidak berjalan, organisasi dapat menelusuri bagian mana yang lemah.

Contoh. Tema “Pertumbuhan Digital” gagal mencapai target transaksi. Tinjauan menunjukkan aplikasi stabil dan pengguna mendaftar, tetapi proses pembayaran terlalu rumit. Pembelajaran mengarah pada Dharma, bukan pada kebutuhan membangun aplikasi baru.

34. Tema Dapat Berubah Ketika Strategi Diperbarui

Tema bukan struktur permanen seperti empat perspektif. Ketika Pilihan Strategis berubah, tema dapat dilanjutkan, disesuaikan, digabung, atau dihentikan.

Contoh. Tema “Ekspansi Fisik” mungkin relevan pada satu periode. Ketika strategi bergeser ke optimalisasi aset dan digital, tema tersebut dapat ditutup dan diganti dengan cerita strategis yang lebih sesuai.

35. Berapa Banyak Tema yang Diperlukan?

Tidak ada angka universal. Tema harus cukup sedikit agar pimpinan dapat mengingat dan menggunakannya, tetapi cukup lengkap untuk menceritakan Pilihan Strategis. Terlalu banyak tema akan mengembalikan organisasi pada daftar prioritas yang tidak fokus.

Contoh. Bila sebuah organisasi memiliki 15 tema dan setiap tema hanya berisi satu atau dua sasaran, kemungkinan tema terlalu terfragmentasi. Sebagian mungkin sebenarnya sasaran, program, atau nama fungsi.

36. Contoh Utuh: Tema Hotel — Keunggulan MICE

UnsurContoh
PilihanMemperkuat pasar MICE korporasi dan wedding.
SwadharmaMeningkatkan kemampuan penjualan korporasi dan pengelolaan acara.
DharmaMeningkatkan keandalan penyelenggaraan acara.
KamaMeningkatkan kepercayaan dan pengalaman penyelenggara.
ArthaMeningkatkan kontribusi pendapatan dan produktivitas aset acara.
InisiatifPenguatan sales pipeline, standar event, sistem banquet, pengembangan tim.

37. Contoh Utuh: Tema Distribusi — Keandalan Pemenuhan Pesanan

UnsurContoh
SwadharmaKemampuan sistem, data, perangkat, dan operator gudang.
DharmaAkurasi picking, ketertelusuran lot/expiry, staging, dan loading.
KamaPesanan yang tepat, lengkap, dan dapat dipercaya pelanggan.
ArthaProduktivitas, kapasitas, pengurangan kesalahan, dan efisiensi persediaan.
Rambu DharmaKeamanan pangan dan integritas ketertelusuran tidak boleh dikompensasikan.

38. Contoh Utuh: Tema Rumah Sakit — Pelayanan Terpadu

UnsurContoh
SwadharmaKemampuan koordinasi klinis dan integrasi informasi.
DharmaKesinambungan dan keselamatan pelayanan.
KamaKepastian, akses, dan kepercayaan pasien.
ArthaProduktivitas kapasitas dan keberlanjutan pelayanan.
PembelajaranMenilai apakah integrasi benar-benar mengurangi friksi perjalanan pasien.

39. Tema dalam Kumpulan Studi Kasus DHASTRAM

Dalam analisis organisasi dari sumber publik, Tema Strategis dapat digunakan sebagai alat interpretasi untuk mengelompokkan pola sasaran dan tindakan. Namun DHASTRAM harus membedakan antara istilah yang benar-benar digunakan organisasi dan tema yang disimpulkan oleh analis.

Contoh. Laporan tahunan menunjukkan investasi digital, peningkatan kanal pelanggan, dan penguatan analitik. Analis dapat membaca pola tersebut sebagai kandidat tema “Transformasi Digital”, tetapi tidak boleh menulis bahwa organisasi secara resmi memiliki tema itu bila sumber tidak menyatakannya.

40. Tema dalam Perangkat Lunak DHASTRAM

Perangkat lunak dapat menjadikan Tema Strategis sebagai objek yang menghubungkan Pilihan, Sasaran, KPI, Inisiatif, manfaat, penanggung jawab, dan hasil tinjauan.

Ringkasan TemaTujuan, cerita strategis, sponsor, periode, dan asumsi utama.
Peta TemaSasaran lintas perspektif beserta hubungan di antaranya.
PortofolioInisiatif, sumber daya, ketergantungan, dan manfaat.
KinerjaKPI penggerak dan hasil beserta tren.
TinjauanKesimpulan, temuan, keputusan, dan tindak lanjut.
KetertelusuranDari tema kembali ke Pilihan Strategis dan bukti.

41. Peran Kecerdasan Artifisial

AI dapat membantu menemukan pola sasaran yang tampak membentuk cerita yang sama, mendeteksi tema yang terlalu tumpang tindih, merangkum kinerja lintas sasaran, atau menunjukkan inisiatif yang tidak memiliki hubungan jelas dengan tema.

Contoh. AI menemukan delapan inisiatif digital tetapi hanya dua yang terhubung ke Sasaran Strategis dalam tema. AI dapat menandai enam inisiatif untuk ditinjau. Keputusan apakah inisiatif dihentikan, dipindahkan, atau tetap dijalankan berada pada manusia.

42. Kesalahan yang Perlu Dihindari

KesalahanMengapa BermasalahPerbaikan
Tema sama dengan departemen.Strategi kembali terkotak fungsi.Bangun cerita lintas perspektif.
Tema hanya slogan.Tidak dapat ditinjau.Hubungkan sasaran, KPI, dan inisiatif.
Tidak berasal dari Pilihan.Tema kehilangan dasar strategis.Telusuri ke Pilihan Strategis.
Hanya satu perspektif.Cerita penciptaan nilai tidak lengkap.Periksa hubungan lintas perspektif.
Terlalu banyak tema.Fokus hilang.Gabungkan cerita yang sebenarnya satu agenda.
Tinjauan hanya menghitung proyek selesai.Aktivitas disamakan dengan manfaat.Tinjau kemampuan, proses, nilai, dan hasil.

43. Pertanyaan Pendalaman untuk Pimpinan

  1. Pilihan Strategis apa yang diterjemahkan tema ini?
  2. Cerita penciptaan nilai apa yang ingin dijelaskan?
  3. Sasaran mana yang benar-benar menjadi bagian dari cerita?
  4. Apakah tema melintasi Swadharma, Dharma, Kama, dan Artha secara masuk akal?
  5. Apakah ada sasaran yang dipaksakan masuk?
  6. Hipotesis hubungan apa yang paling kritis?
  7. Apakah portofolio inisiatif seimbang dengan pentingnya tema?
  8. Apakah manfaat mulai terlihat atau hanya proyek yang selesai?
  9. Rambu Dharma apa yang harus dijaga?
  10. Apakah tema masih relevan dengan Pilihan dan asumsi terbaru?

44. Kesimpulan

Tema Strategis membantu organisasi memahami strategi sebagai beberapa cerita penciptaan nilai yang dapat dikelola dan dipelajari. Tema menghubungkan Pilihan Strategis dengan Sasaran lintas perspektif, KPI, portofolio inisiatif, manfaat, dan pembelajaran.

Inti pembelajaran. Tema bukan nama yang ditempelkan pada sekumpulan proyek. Tema harus mampu menceritakan dengan jelas: kemampuan apa yang dibangun, tindakan apa yang membaik, nilai apa yang diterima pemangku kepentingan, hasil apa yang diharapkan, inisiatif apa yang mendukungnya, dan apakah bukti menunjukkan cerita tersebut benar-benar bekerja.