DHASTRAM — Dharma Strategic Management dikembangkan sebagai kerangka manajemen strategis yang menghubungkan nilai, makna, strategi, tindakan, hasil, pembelajaran, dan pembaruan.
DHASTRAM tidak menempatkan ajaran Hindu sekadar sebagai ornamen budaya dalam manajemen. Nilai-nilai Hindu digunakan sebagai landasan cara berpikir untuk memahami organisasi: mengapa organisasi ada, di lingkungan seperti apa organisasi hidup, bagaimana tindakan menghasilkan konsekuensi, bagaimana organisasi belajar, dan untuk tujuan apa keberhasilan akhirnya diarahkan.
Salah satu landasan filosofis penting dalam DHASTRAM adalah Panca Sradha, lima dasar keyakinan dalam Hindu: Brahman, Atman, Karma Phala, Punarbhawa, dan Moksa.
Dari Keyakinan Menuju Cara Berpikir Strategis
Dari Panca Sradha lahir suatu perjalanan strategis: memahami realitas, mengenali jati diri, memahami hubungan sebab-akibat, belajar dan memperbarui diri, serta mengarahkan keberhasilan kepada tujuan yang lebih bermakna.
Dalam kerangka ini, strategi tidak dimulai dari target angka semata. Strategi dimulai dari kesadaran: organisasi hidup dalam realitas yang luas, memiliki jati diri tertentu, menjalankan tindakan yang membawa akibat, perlu belajar dari hasil, dan harus mengarahkan keberhasilan kepada kemanfaatan yang lebih tinggi.
1. Brahman — Memahami Realitas yang Lebih Luas
Dalam ajaran Hindu, Brahman merupakan realitas tertinggi yang melandasi keberadaan. Dalam pemikiran DHASTRAM, prinsip Brahman mengingatkan bahwa organisasi tidak pernah berdiri sendiri.
Setiap organisasi berada dalam lingkungan yang jauh lebih luas daripada batas organisasinya sendiri. Perubahan ekonomi, teknologi, masyarakat, regulasi, budaya, lingkungan hidup, pelanggan, pesaing, tenaga kerja, dan berbagai pemangku kepentingan akan memengaruhi perjalanan organisasi.
Pertanyaan dasarnya adalah: di dalam realitas seperti apa organisasi kita berada?
Secara manajerial, prinsip Brahman diterjemahkan melalui analisis lingkungan eksternal, perubahan industri, kebutuhan stakeholder, kompetisi, peluang dan ancaman, kekuatan dan kelemahan organisasi, serta perubahan yang mungkin terjadi pada masa depan. Alat seperti PESTEL, analisis industri, stakeholder analysis, SWOT, dan analisis lingkungan strategis lainnya merupakan alat bantu.
Namun Brahman dalam DHASTRAM mempunyai makna yang lebih luas daripada sekadar melakukan SWOT. Yang ingin dibangun adalah kesadaran bahwa organisasi merupakan bagian dari suatu sistem kehidupan yang saling berhubungan. Keputusan organisasi dapat memengaruhi pelanggan, pegawai, pemegang saham, masyarakat, lingkungan, bahkan generasi yang akan datang.
2. Atman — Menemukan Jati Diri Organisasi
Jika Brahman membawa organisasi melihat keluar dan memahami realitas yang lebih luas, Atman membawa organisasi melihat ke dalam dirinya sendiri.
Pertanyaan strategisnya menjadi: siapakah kita? Pertanyaan itu dilanjutkan dengan pertanyaan yang lebih mendalam: mengapa organisasi ini ada, apa yang kita yakini, nilai apa yang tidak boleh kita korbankan, apa yang ingin kita berikan kepada masyarakat, dan menjadi organisasi seperti apa kita di masa depan.
Dalam konteks manajemen strategis, Atman diterjemahkan melalui keyakinan dasar, nilai inti, tujuan keberadaan, visi, misi, dan identitas organisasi.
Inilah alasan DHASTRAM tidak memulai strategi hanya dari pertanyaan berapa keuntungan yang ingin dicapai. Pertanyaan tersebut penting, tetapi belum cukup. Sebelum menentukan target, organisasi perlu memahami jati dirinya.
Sebuah rumah sakit bukan sekadar organisasi yang memperoleh pendapatan dari pelayanan kesehatan. Ia memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan dan kesehatan manusia. Sebuah lembaga pendidikan bukan sekadar organisasi yang memperoleh pendapatan dari biaya pendidikan. Ia mempunyai tanggung jawab membangun manusia dan pengetahuan. Demikian pula perusahaan komersial. Perusahaan membutuhkan laba agar mampu bertahan dan berkembang, tetapi keberadaannya juga harus menghasilkan nilai yang dibutuhkan masyarakat.
3. Karma Phala — Memahami Hubungan antara Tindakan dan Hasil
Karma Phala memberikan salah satu prinsip paling penting bagi manajemen strategis: setiap tindakan mempunyai konsekuensi.
Hasil yang diperoleh organisasi tidak muncul dengan sendirinya. Pendapatan bukan muncul hanya karena ditargetkan. Kepuasan pelanggan tidak muncul hanya karena ditetapkan sebagai KPI. Pertumbuhan tidak terjadi hanya karena dicantumkan dalam rencana strategis. Semua hasil mempunyai penyebab.
Karena itulah DHASTRAM membangun strategi melalui hubungan sebab-akibat. Dalam kerangka DHASTRAM, hubungan tersebut diwujudkan melalui empat perspektif: Swadharma, Dharma, Kama, dan Artha.
| Perspektif | Makna Strategis |
|---|---|
| Swadharma | Organisasi membangun kemampuan internal yang diperlukan untuk menjalankan perannya: kompetensi manusia, budaya organisasi, kepemimpinan, teknologi, pengetahuan, sistem informasi, struktur organisasi, dan kapasitas kelembagaan. |
| Dharma | Kemampuan tersebut digunakan untuk menjalankan proses, kewajiban, dan tanggung jawab organisasi dengan baik. |
| Kama | Pelaksanaan Dharma yang baik menghasilkan nilai yang dirasakan oleh stakeholder: pelanggan, pegawai, mitra, masyarakat, dan pihak lain yang terdampak. |
| Artha | Apabila organisasi menciptakan manfaat bagi stakeholder, maka organisasi memperoleh hasil yang memungkinkan keberlanjutannya: pendapatan, surplus, laba, aset, produktivitas, efisiensi, dan sumber daya lainnya. |
Dengan demikian, Artha bukan sekadar tujuan yang dikejar, tetapi juga buah dari rangkaian sebab yang dikelola dengan benar. Inilah prinsip Karma Phala dalam strategi.
Dari Karma Phala Menuju Peta Strategi
Prinsip sebab-akibat diwujudkan dalam Peta Strategi DHASTRAM. Peta strategi bukan sekadar kumpulan kotak berisi tujuan. Setiap tujuan harus mempunyai hubungan logis: jika kemampuan ini dibangun, proses apa yang menjadi lebih baik; jika proses membaik, manfaat apa yang dirasakan stakeholder; jika stakeholder memperoleh manfaat, hasil organisasi apa yang akan terbentuk.
Di sinilah strategi berubah dari sekadar daftar keinginan menjadi hipotesis sebab-akibat yang dapat diuji melalui pelaksanaan dan pengukuran.
4. Punarbhawa — Belajar, Memperbaiki, dan Memperbarui
Tidak ada strategi yang sempurna. Lingkungan berubah, asumsi dapat keliru, teknologi berkembang, pelanggan berubah, kompetitor bergerak, regulasi berubah, dan kemampuan organisasi sendiri terus berkembang.
Karena itu organisasi tidak dapat menjalankan strategi dengan pendekatan merencanakan sekali kemudian melaksanakannya tanpa perubahan. DHASTRAM memandang organisasi sebagai sistem yang terus belajar.
Dalam konteks manajemen, Punarbhawa diterjemahkan sebagai kemampuan organisasi untuk melaksanakan, mengukur, mengevaluasi, memahami, memperbaiki, dan memperbarui.
Setelah strategi dijalankan, organisasi mengukur hasilnya melalui indikator kinerja. Tetapi pengukuran bukanlah tujuan akhir. Pertanyaan terpenting justru muncul setelah pengukuran: mengapa target tercapai, atau mengapa target tidak tercapai?
Dalam DHASTRAM, hasil pengukuran harus menghasilkan tindakan. Ketika suatu indikator menunjukkan masalah, organisasi perlu melakukan analisis penyebab. Ketika asumsi strategi ternyata tidak sesuai kenyataan, strategi perlu diperbaiki. Ketika peluang baru muncul, organisasi harus mampu beradaptasi.
Karena itu terdapat siklus: Monitoring, Evaluasi, Pembelajaran, Tindakan Korektif, dan Pembaruan Strategi. Punarbhawa menjadikan strategi sebagai proses hidup, bukan dokumen mati.
5. Moksa — Memberikan Makna terhadap Keberhasilan
Dalam ajaran Hindu, Moksa merupakan tujuan spiritual tertinggi. Karena itu DHASTRAM tidak menyamakan Moksa dengan keberhasilan bisnis, keuntungan, pertumbuhan perusahaan, ataupun ukuran kinerja organisasi.
Moksa ditempatkan sebagai inspirasi filosofis mengenai tujuan tertinggi dan makna keberhasilan. Pertanyaan yang diajukan menjadi lebih mendalam: untuk apa organisasi ingin berhasil?
Jika organisasi hanya mengejar Artha, maka keberhasilan mudah direduksi menjadi angka. Pendapatan meningkat, laba meningkat, aset bertambah, dan pasar berkembang. Semua itu penting bagi keberlangsungan organisasi. Namun DHASTRAM mengajak pimpinan melihat satu langkah lebih jauh: setelah organisasi berkembang, apa manfaat keberadaannya?
Apakah pelanggan memperoleh kehidupan yang lebih baik? Apakah pegawai berkembang? Apakah masyarakat memperoleh manfaat? Apakah keberadaan organisasi memperkuat atau justru merusak lingkungan tempatnya tumbuh? Apakah organisasi meninggalkan sesuatu yang bernilai bagi generasi berikutnya?
Dalam perspektif DHASTRAM, organisasi yang matang tidak hanya mengejar keberhasilan jangka pendek. Ia berusaha membangun keadaan di mana organisasi sehat, stakeholder memperoleh manfaat, manusia berkembang, masyarakat memperoleh kontribusi, dan keberlangsungan dapat dipertahankan.
Panca Sradha sebagai Satu Kesatuan
Kelima prinsip tersebut tidak berdiri sendiri. Mereka membentuk suatu cara berpikir yang utuh.
| Unsur Panca Sradha | Pertanyaan Strategis | Makna dalam DHASTRAM |
|---|---|---|
| Brahman | Di dalam dunia seperti apa kita berada? | Organisasi memahami lingkungan dan sistem yang lebih luas tempat dirinya berada. |
| Atman | Siapakah kita dan mengapa kita ada? | Organisasi memahami jati diri, nilai, visi, misi, dan tujuan keberadaannya. |
| Karma Phala | Tindakan apa yang akan menghasilkan tujuan yang kita kehendaki? | Organisasi menerjemahkan tujuan menjadi rangkaian strategi dan tindakan yang memiliki hubungan sebab-akibat. |
| Punarbhawa | Apa yang harus kita pelajari, koreksi, dan perbarui? | Organisasi mengukur hasil, belajar, melakukan koreksi, dan memperbarui dirinya. |
| Moksa | Untuk tujuan yang lebih tinggi, keberhasilan ini diarahkan? | Organisasi mengarahkan keberhasilan kepada keberlangsungan dan kemanfaatan yang lebih tinggi. |
DHASTRAM memandang proses manajemen sebagai siklus: membaca Brahman dan Atman, memilih strategi, bertindak, membaca Karma Phala, belajar melalui Punarbhawa, lalu memperbarui analisis. Moksa menjadi orientasi tujuan luhur bagi seluruh siklus, bukan tahap operasional yang dilewati setelah Punarbhawa.
Dari Filosofi Menuju Sistem Manajemen
Kekuatan DHASTRAM terletak pada kemampuannya membawa prinsip filosofis tersebut ke dalam praktik manajemen. Panca Sradha tidak berhenti menjadi gagasan abstrak. Ia diterjemahkan menjadi proses strategis: memahami, menemukan jati diri, merumuskan, merencanakan, melaksanakan, mengukur, mengevaluasi, belajar, memperbarui, dan memberi makna.
Proses tersebut kemudian diwujudkan melalui perangkat manajemen DHASTRAM seperti Tema Strategis, Tujuan Strategis, Peta Strategi, IKU/KPI, Target, Inisiatif Strategis, Program, Anggaran, Implementasi, Monitoring, Tinjauan Strategi, dan Tindakan Korektif.
Dengan demikian terdapat garis yang jelas antara nilai, strategi, tindakan, hasil, pembelajaran, dan pembaruan.
Dua Lapisan dalam DHASTRAM
| Lapisan | Unsur | Fungsi |
|---|---|---|
| Filosofis | Brahman, Atman, Karma Phala, Punarbhawa, Moksa | Memberikan cara pandang dan makna. |
| Strategis dan Operasional | Swadharma, Dharma, Kama, Artha | Membantu organisasi menyusun hubungan sebab-akibat yang dapat diterjemahkan menjadi tujuan, indikator, program, anggaran, dan tindakan nyata. |
Panca Sradha menjelaskan cara organisasi memandang perjalanan strategisnya, sedangkan Swadharma-Dharma-Kama-Artha menjelaskan bagaimana strategi tersebut bekerja.
Esensi DHASTRAM
Pada akhirnya DHASTRAM mengajak organisasi menjawab lima kelompok pertanyaan besar: realitas, jati diri, strategi, pembelajaran, dan makna. Kelima pertanyaan tersebut membawa manajemen strategis melampaui persoalan target semata.
Dari pemahaman lahir arah. Dari arah lahir strategi. Dari strategi lahir tindakan. Dari tindakan lahir hasil. Dari hasil lahir pembelajaran. Dari pembelajaran lahir pembaruan. Dan dari seluruh perjalanan tersebut, keberhasilan memperoleh makna.
Rujukan istilah: Glosarium DHASTRAM dan Kerangka Utama.