Dharma Strategic Management tidak memandang manusia hanya sebagai sumber daya, tenaga kerja, pemilik, pelanggan, atau pengambil keputusan. Di balik seluruh peran tersebut terdapat manusia sebagai pribadi yang memiliki kesadaran, nilai, tanggung jawab, dan tujuan keberadaan.
Karena itu, sebelum organisasi bertanya:
Apa yang harus kita lakukan?
terdapat pertanyaan yang lebih mendasar:
Siapakah kita?
Pertanyaan tentang siapa manusia membawa kita kepada konsep Ātman.
Dalam kerangka DHASTRAM, Ātman bukanlah sebuah konsep manajemen yang hendak menggantikan teori organisasi modern. Ātman ditempatkan sebagai fondasi filosofis untuk memahami manusia yang berada di balik organisasi, keputusan, strategi, dan tindakan.
Ātman yang Tidak Berubah
Salah satu uraian penting mengenai Ātman terdapat dalam Bhagavad Gītā 2.20:
na jāyate mriyate vā kadācin
nāyaṁ bhūtvā bhavitā vā na bhūyaḥ
ajo nityaḥ śāśvato 'yaṁ purāṇo
na hanyate hanyamāne śarīre
Secara ringkas, sloka ini menyatakan bahwa Ātman tidak lahir dan tidak mati; ia tidak dihancurkan ketika tubuh dihancurkan.
Pesan filosofisnya sangat mendasar: tubuh mengalami perubahan, tetapi Ātman tidak dipahami sebagai sesuatu yang berubah bersama tubuh.
Hal ini juga terlihat dalam Bhagavad Gītā 2.13. Kṛṣṇa menjelaskan bahwa manusia mengalami masa kanak-kanak, masa muda, dan masa tua dalam tubuh yang sama, kemudian memperoleh tubuh yang lain. Orang yang teguh tidak terbingungkan oleh perubahan tersebut.
Dengan demikian dapat dibedakan:
Dehin → penghuni tubuh
Pembedaan ini penting bagi DHASTRAM.
Manusia bukan hanya jabatan yang dimilikinya. Bukan hanya usia, kekayaan, pendidikan, posisi dalam organisasi, ataupun prestasi yang telah dicapai. Ada dimensi diri yang lebih dalam daripada identitas lahiriah tersebut.
Dari Diri yang Tetap Menuju Kehidupan yang Berubah
Organisasi juga mengalami perubahan. Pimpinan berganti. Karyawan datang dan pergi. Produk berubah. Teknologi berkembang. Pasar berubah. Struktur organisasi dapat diubah. Strategi dapat diperbarui.
Namun di tengah seluruh perubahan tersebut, organisasi tetap membutuhkan pertanyaan:
Apa yang menjadi jati dirinya?
Pertanyaan ini membawa DHASTRAM kepada pembedaan antara apa yang berubah dan apa yang menjadi dasar keberadaan.
Dalam konteks organisasi, ini tidak berarti bahwa organisasi memiliki Ātman dalam pengertian metafisik yang sama dengan manusia. Itu akan menjadi klaim yang melampaui sumber filosofisnya.
Yang dapat dilakukan DHASTRAM adalah mengambil inspirasi dari pembedaan tersebut untuk mengajukan pertanyaan tentang identitas organisasi:
Apa yang tetap ketika keadaan berubah?
Dari pertanyaan tersebut kemudian muncul:
Ātman dan Kesadaran Diri
Pemahaman tentang Ātman juga membawa manusia dari sekadar mengetahui dunia menuju mengenal dirinya sendiri.
Dalam kehidupan organisasi, manusia sering sibuk mengamati pelanggan, pesaing, teknologi, ekonomi, regulasi, pasar, risiko, dan peluang. Semua itu penting.
Tetapi organisasi dapat melakukan analisis lingkungan yang sangat baik dan tetap salah arah apabila tidak memahami dirinya sendiri.
Karena itu DHASTRAM membutuhkan dua proses yang berjalan bersama:
dan
Memahami diri
Lingkungan menjawab:
Di mana kita berada?
Kesadaran diri menjawab:
Siapa kita?
Swadharma kemudian mengajukan pertanyaan:
Apa tanggung jawab khas kita?
Mengangkat Diri: Bhagavad Gītā 6.5
Hubungan antara kesadaran diri dan tindakan menjadi semakin menarik dalam Bhagavad Gītā 6.5:
uddhared ātmanātmānaṁ
nātmānam avasādayet
ātmaiva hy ātmano bandhur
ātmaiva ripur ātmanaḥ
Ayat ini secara umum diterjemahkan sebagai ajaran untuk mengangkat diri dan tidak menjatuhkan diri; diri sendiri dapat menjadi sahabat maupun musuh bagi dirinya sendiri.
Namun, kata ātman dalam Gītā mempunyai rentang makna dan ditafsirkan berbeda dalam berbagai tradisi. Karena itu DHASTRAM tidak perlu menyederhanakannya menjadi “Ātman berarti pikiran”.
Yang dapat diambil sebagai inspirasi kontekstual adalah:
Manusia mempunyai tanggung jawab untuk mengelola dirinya dan mengarahkan kehidupannya.
Ini memiliki relevansi langsung dengan kepemimpinan. Pemimpin tidak hanya mengelola organisasi. Ia juga harus mampu mengelola dirinya sendiri.
Dari Ātman Menuju Swadharma
Inilah titik penting hubungan Ātman dengan DHASTRAM.
Jika manusia memahami dirinya, ia dapat mulai bertanya:
Untuk apa saya hidup?
Kemudian:
Apa yang menjadi tanggung jawab saya?
Dan selanjutnya:
Apa yang harus saya lakukan?
Dalam kerangka DHASTRAM, pertanyaan tersebut mengarah kepada Swadharma.
Swadharma bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah tanggung jawab khas yang berkaitan dengan keberadaan, peran, kemampuan, keadaan, dan konteks seseorang atau organisasi.
Tindakan → Karma → Karma Phala → Pembelajaran
Dengan demikian, Ātman menjadi titik awal untuk memahami siapa pelaku tindakan, sementara Dharma memberikan arah mengenai bagaimana tindakan seharusnya dilakukan.
Ātman, Jīva, dan Prakṛti
Hubungan manusia dengan dunia juga mendapat penjelasan penting dalam Bhagavad Gītā 15.7:
mamaivāṁśo jīva-loke
jīva-bhūtaḥ sanātanaḥ
manaḥ-ṣaṣṭhānīndriyāṇi
prakṛti-sthāni karṣati
Sloka ini menggambarkan makhluk hidup sebagai bagian yang kekal dari-Nya dan menjelaskan keterkaitannya dengan pikiran serta indra yang berada dalam prakṛti.
Dalam berbagai tradisi Vedānta, hubungan antara Ātman/jīva dan Brahman dalam sloka ini ditafsirkan secara berbeda. Karena itu DHASTRAM tidak perlu menetapkan satu tafsir metafisik sebagai satu-satunya tafsir.
Yang dapat diambil sebagai inspirasi adalah adanya hubungan antara:
Manusia tidak hidup dalam ruang kosong. Ia berada dalam lingkungan, dipengaruhi lingkungan, mengambil keputusan berdasarkan persepsinya terhadap lingkungan, dan tindakannya kemudian menghasilkan akibat terhadap dirinya dan lingkungannya.
Ātman dan Analisis Lingkungan
Dari sinilah dua fondasi filosofis DHASTRAM mulai bertemu.
Konsep Alam sebagai Manifestasi memberikan sisi lingkungan: realitas perlu dipahami sebelum organisasi menentukan tindakan.
Sementara konsep Ātman memberikan sisi manusianya:
Siapa yang sedang memahami realitas tersebut?
Maka analisis strategis membutuhkan dua arah kesadaran:
Siapa kita?
Apa nilai kita?
Apa tujuan kita?
Apa Swadharma kita?
Ke luar
Di mana kita berada?
Apa yang sedang berubah?
Siapa yang terdampak?
Apa akibat perubahan tersebut?
Keduanya kemudian bertemu dalam strategi.
Dari Kesadaran Menuju Strategi
Strategi dalam DHASTRAM tidak dimulai hanya dari analisis pasar. Ia dimulai dari kesadaran.
↓
Kesadaran diri
↓
Nilai dan makna
↓
Swadharma
↓
Pemahaman lingkungan
↓
Tujuan
↓
Strategi
↓
Tindakan
↓
Karma Phala
↓
Pembelajaran
↓
Perbaikan
Ini bukan urutan yang dinyatakan secara eksplisit oleh Bhagavad Gītā sebagai model manajemen. Ini adalah kerangka interpretatif DHASTRAM yang mengambil inspirasi dari ajaran mengenai Ātman, Dharma, Karma, dan hubungan manusia dengan Prakṛti.
Manusia Bukan Sekadar Alat untuk Mencapai Target
Implikasi pentingnya adalah perubahan cara memandang manusia dalam organisasi.
Jika manusia hanya dipandang sebagai resource, maka pertanyaan organisasi mudah berhenti pada berapa banyak orang yang diperlukan, berapa produktivitas mereka, dan berapa biaya tenaga kerja.
Pertanyaan tersebut tetap penting dalam manajemen. Tetapi perspektif DHASTRAM menambahkan:
- Siapa manusia yang bekerja bersama kita?
- Apa makna pekerjaannya bagi dirinya?
- Apakah pekerjaannya sesuai dengan tanggung jawab dan kemampuannya?
- Apakah organisasi membantu manusia berkembang?
- Apakah pencapaian organisasi dilakukan melalui jalan yang benar?
Dengan demikian manusia tidak hanya dipandang sebagai sarana mencapai tujuan organisasi, tetapi sebagai pribadi yang memiliki nilai dan perjalanan kehidupannya sendiri.
Dari “Apa yang Kita Miliki?” menuju “Siapa Kita?”
Manajemen strategis sering dimulai dengan pertanyaan:
Apa sumber daya kita?
DHASTRAM menambahkan pertanyaan yang lebih mendasar:
Siapa kita?
Dari sini pertanyaan strategis berkembang:
↓
Mengapa kita ada?
↓
Apa yang kita yakini?
↓
Apa tanggung jawab kita?
↓
Untuk siapa kita bekerja?
↓
Apa yang harus kita wujudkan?
↓
Bagaimana kita mewujudkannya?
Inilah perjalanan dari identitas menuju strategi.
Ātman sebagai Fondasi Kesadaran Strategis
Dengan demikian, Ātman dalam DHASTRAM tidak dimaksudkan sebagai KPI, perspektif Balanced Scorecard, atau alat analisis organisasi.
Ātman berada pada tingkat yang lebih mendasar.
Ia menjadi fondasi filosofis tentang manusia yang menjalankan strategi.
Tanpa kesadaran mengenai diri, strategi mudah berubah menjadi sekadar usaha mencapai target.
Dengan kesadaran diri, organisasi dapat mulai bertanya:
Target ini untuk apa?
Pertumbuhan ini untuk siapa?
Keputusan ini sesuai dengan tanggung jawab kita atau tidak?
Apa akibatnya bagi manusia, masyarakat, dan alam?
Pertanyaan tersebut membawa strategi dari sekadar efektivitas menuju makna dan tanggung jawab.
Penutup — Mengenal Diri Sebelum Menentukan Arah
Bhagavad Gītā memberikan gambaran tentang diri yang tidak identik dengan perubahan tubuh, tentang manusia yang perlu mengangkat dirinya, serta tentang hubungan makhluk hidup dengan Prakṛti.
Dharma Strategic Management membaca ajaran tersebut sebagai inspirasi untuk menempatkan kesadaran diri sebelum pilihan strategis.
Karena organisasi dibentuk dan dijalankan oleh manusia, maka kualitas strategi pada akhirnya juga berhubungan dengan kualitas kesadaran manusia yang membuat dan menjalankannya.
Maka perjalanan strategis dapat dimulai bukan dengan pertanyaan:
“Apa yang harus kita lakukan?”
tetapi:
“Siapakah kita?”
Kemudian:
“Mengapa kita ada?”
“Apa Swadharma kita?”
“Apa yang terjadi di lingkungan kita?”
“Apa yang seharusnya kita lakukan?”
Dan akhirnya:
“Bagaimana kita menjalankannya dengan benar?”
Strategi bukan hanya perjalanan organisasi menuju suatu keadaan yang diinginkan. Strategi menjadi perjalanan manusia dan organisasi untuk mewujudkan tujuan tanpa kehilangan kesadaran tentang siapa dirinya dan untuk apa ia ada.