“Seluruh alam semesta ini diliputi oleh-Ku dalam wujud-Ku yang tidak termanifestasikan. Semua makhluk berada di dalam-Ku, namun Aku tidak dibatasi oleh mereka.”
Melihat Lingkungan dengan Kesadaran Dharma
Dalam manajemen strategis modern, organisasi tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berada dalam suatu lingkungan yang terdiri atas manusia, masyarakat, ekonomi, teknologi, regulasi, budaya, alam, pelanggan, pemasok, pesaing, serta berbagai perubahan yang terus berlangsung.
Karena itu, salah satu langkah penting dalam Dharma Strategic Management adalah memahami lingkungan tempat organisasi berada.
Namun Dharma Strategic Management memberikan cara pandang yang lebih mendasar. Lingkungan tidak hanya dipandang sebagai kumpulan faktor eksternal yang dapat memberikan peluang atau ancaman. Lingkungan dipandang sebagai bagian dari realitas kehidupan yang berada dalam keteraturan Hyang Widhi.
Sloka Bhagavad Gītā 9.4 memberikan inspirasi bagi cara pandang tersebut. Sloka ini berbicara mengenai kehadiran Yang Ilahi yang meliputi seluruh alam dalam wujud yang tidak termanifestasikan. Pembacaan Dharma Strategic Management terhadap sloka ini bukanlah terjemahan baru ataupun klaim bahwa Bhagavad Gītā secara langsung mengajarkan teori manajemen strategis. Sloka tersebut digunakan sebagai inspirasi filosofis untuk membangun kesadaran ketika organisasi membaca dan memahami lingkungannya.
Dari “Lingkungan Eksternal” Menjadi “Realitas yang Dihadapi”
Dalam pendekatan manajemen konvensional, lingkungan sering dibedakan menjadi:
Internal → organisasi dan sumber dayanya
Eksternal → lingkungan yang berada di luar organisasi
Pembagian tersebut berguna untuk analisis. Namun dalam perspektif Dharma, batas tersebut perlu dipahami secara lebih hati-hati. Organisasi memang mempunyai batas administratif, hukum, struktur, dan kepemilikan. Tetapi organisasi tidak terpisah dari kehidupan yang lebih luas.
Perusahaan membutuhkan pelanggan. Pelanggan hidup dalam masyarakat. Masyarakat dipengaruhi ekonomi, budaya, teknologi, kebijakan dan lingkungan alam. Teknologi dikembangkan oleh manusia dan menggunakan sumber daya alam. Sumber daya alam menjadi bagian dari kehidupan seluruh makhluk.
Dengan demikian, setiap keputusan organisasi pada akhirnya berhubungan dengan jaringan kehidupan yang jauh lebih luas daripada organisasi itu sendiri.
“Realitas apa yang sedang kita hadapi, dan apa tanggung jawab kita terhadap realitas tersebut?”
Lingkungan sebagai Manifestasi yang Perlu Dipahami
Jika lingkungan dipahami sebagai bagian dari realitas yang berada dalam keteraturan Hyang Widhi, maka analisis lingkungan bukan sekadar aktivitas mencari peluang untuk memperoleh keuntungan.
Analisis lingkungan menjadi sebuah proses memahami realitas sebelum bertindak.
- perubahan kebutuhan manusia;
- perkembangan masyarakat;
- kondisi ekonomi;
- perubahan teknologi;
- kebijakan dan regulasi;
- perkembangan budaya;
- kondisi lingkungan hidup;
- perkembangan ilmu pengetahuan;
- perubahan perilaku pelanggan;
- hubungan dengan pemasok dan mitra;
- dinamika tenaga kerja;
- perkembangan pesaing.
Semuanya merupakan kenyataan yang harus dipahami sebelum organisasi menentukan tindakannya. Karena itu, Dharma Strategic Management menempatkan analisis lingkungan sebagai bagian dari proses memahami sebelum menentukan.
Dari Mengamati Menuju Memahami
Ada perbedaan antara melihat dan memahami. Sebuah organisasi mungkin melihat bahwa teknologi kecerdasan buatan berkembang sangat cepat. Tetapi melihat perubahan tersebut belum berarti memahami maknanya.
Organisasi perlu bertanya: Apa yang sebenarnya berubah? Mengapa perubahan tersebut terjadi? Siapa yang terdampak? Apa akibatnya terhadap organisasi? Apa akibatnya terhadap pelanggan dan masyarakat? Apa yang perlu dilakukan? Apa yang tidak boleh dilakukan?
Strategi bukan hanya: “Apa yang dapat kita lakukan?”
tetapi juga: “Apa yang seharusnya kita lakukan?”
Di sinilah analisis lingkungan mulai terhubung dengan Dharma.
Lingkungan Tidak Hanya Mengandung Peluang dan Ancaman
Dalam kerangka strategis konvensional, perubahan lingkungan sering dikategorikan menjadi opportunity dan threat. Pendekatan tersebut tetap berguna. Namun Dharma Strategic Management menambahkan dimensi pertanyaan:
Apa makna perubahan tersebut bagi tanggung jawab organisasi?
Misalnya, perkembangan teknologi digital dapat menjadi peluang bisnis. Tetapi perkembangan yang sama juga dapat menimbulkan persoalan privasi, keamanan data, ketimpangan akses, perubahan pekerjaan, penyalahgunaan informasi, dan ketergantungan teknologi.
Maka organisasi perlu bertanya:
“Bagaimana peluang ini dapat dimanfaatkan dengan benar dan memberikan manfaat tanpa mengabaikan tanggung jawab?”
Inilah perbedaan penting antara memanfaatkan lingkungan dan berelasi secara sadar dengan lingkungan.
Lingkungan sebagai Cermin Tanggung Jawab
Setiap organisasi memiliki Swadharma—tanggung jawab khas sesuai dengan keberadaan, tujuan, kemampuan, dan perannya.
Karena itu, perubahan lingkungan yang sama dapat mempunyai makna berbeda bagi organisasi yang berbeda. Perubahan teknologi bagi perusahaan teknologi mungkin merupakan pusat strategi. Bagi rumah sakit, teknologi mungkin terutama berkaitan dengan peningkatan pelayanan. Bagi perguruan tinggi, teknologi dapat berkaitan dengan pembelajaran dan pengembangan pengetahuan. Bagi organisasi keagamaan, teknologi mungkin terutama berhubungan dengan pelayanan umat dan penyebaran pengetahuan.
Lingkungan yang sama tidak selalu menghasilkan respons strategis yang sama.
Respons harus disesuaikan dengan siapa organisasi tersebut, untuk apa organisasi tersebut ada, dan tanggung jawab apa yang harus dijalankannya.
Analisis Lingkungan sebagai Jalan Menuju Swadharma
Inilah hubungan penting antara analisis lingkungan dan Dharma Strategic Management.
Analisis lingkungan menjadi pintu masuk menuju pilihan strategis.
Melihat yang Tidak Terlihat
Sloka Bhagavad Gītā 9.4 juga mengandung gagasan mengenai sesuatu yang tidak termanifestasikan. Dalam konteks manajemen, hal ini dapat menjadi pengingat bahwa tidak semua faktor strategis dapat langsung terlihat.
Organisasi dapat mengukur pendapatan, jumlah pelanggan, biaya, produktivitas, pangsa pasar, dan tingkat kepuasan. Tetapi terdapat pula hal-hal yang lebih sulit diukur: kepercayaan, reputasi, budaya, komitmen, nilai, legitimasi sosial, harapan masyarakat, kualitas hubungan, rasa memiliki, dan keyakinan terhadap organisasi.
Karena itu, analisis lingkungan harus mampu melihat lebih jauh daripada apa yang mudah diukur.
Alam Bukan Sekadar Sumber Daya
Perspektif Dharma juga mengubah hubungan organisasi dengan alam. Jika alam hanya dipandang sebagai sumber daya, maka orientasi organisasi mudah berubah menjadi:
Namun apabila alam dipahami sebagai bagian dari kehidupan yang berada dalam keteraturan yang lebih besar, maka hubungan tersebut menuntut kesadaran yang berbeda.
Organisasi perlu bertanya: Apa yang kita ambil dari alam? Apa yang kita kembalikan? Apa akibat kegiatan kita terhadap generasi berikutnya? Apakah pertumbuhan organisasi memperbaiki atau merusak keseimbangan kehidupan?
Dengan demikian, keberlanjutan tidak hanya menjadi tuntutan regulasi atau reputasi. Ia menjadi bagian dari tanggung jawab strategis.
Analisis Lingkungan sebagai Praktik Kesadaran
Dharma Strategic Management pada akhirnya mengajak pimpinan organisasi untuk mengubah cara memandang analisis lingkungan. Bukan sekadar “Cari peluang” atau “Hindari ancaman”, tetapi:
“Pahami realitas.”
“Pahami posisi dan tanggung jawab kita di dalamnya.”
“Tentukan tindakan yang sesuai dengan Dharma.”
Dengan cara pandang tersebut, analisis lingkungan menjadi sebuah bentuk kesadaran strategis.
Dari Lingkungan Menuju Strategi
Strategi tidak dimulai dari keinginan organisasi untuk melakukan sesuatu. Strategi dimulai dari pemahaman terhadap realitas tempat organisasi hidup dan menjalankan Swadharmanya.
Lingkungan memberikan informasi. Kesadaran memberikan pemahaman. Dharma memberikan arah. Swadharma memberikan konteks. Strategi menerjemahkan pemahaman tersebut menjadi pilihan. Dan tindakan mewujudkan pilihan tersebut dalam kehidupan nyata.
Penutup — Strategi sebagai Cara Berelasi dengan Kehidupan
Bhagavad Gītā 9.4 memberikan sebuah inspirasi filosofis yang sangat dalam bagi Dharma Strategic Management: alam semesta bukan sekadar latar tempat organisasi menjalankan aktivitasnya.
Organisasi berada di dalam kehidupan. Ia bergantung pada kehidupan. Ia memengaruhi kehidupan. Dan karena itu ia mempunyai tanggung jawab terhadap kehidupan.
Maka analisis lingkungan dalam Dharma Strategic Management bukan sekadar teknik untuk menemukan peluang dan menghindari ancaman. Ia adalah usaha untuk memahami realitas secara lebih utuh, menyadari posisi organisasi di dalamnya, mengenali Swadharma, dan kemudian menentukan tindakan yang selaras dengan Dharma.
Lingkungan bukan hanya sesuatu yang berada di luar organisasi untuk dianalisis. Lingkungan adalah realitas kehidupan tempat organisasi berada, belajar, bertindak, menerima akibat, dan menjalankan Swadharmanya.
Memahami realitas. Menemukan makna. Menjalankan Dharma. Mewujudkan tujuan.